Terjadi Serangan Verbal Dan Fisik Kepada 2 Pelajar Wanita di Australia

Terjadi Serangan Verbal Dan Fisik Kepada 2 Pelajar Wanita di Australia

Terjadi serangan verbal dan fisik kepada 2 pelajar wanita di australia. Ada laporan wanita asal indonesia mendapatkan makian dan pemukulan sampai terjatuh di pusatnya kota canberra pada kamis kemarin.

Sejak terdapat laporan , Ketua PPIA (perhimpunan pelajar indonesia australia), di pusat kota australia, mengungkapkan kepada ABC Indonesia bahwa 2 pelajar wanita yang sedang menggali ilmu disana mendapat serangan sekitar jam 04.30 sore.

Presiden PPIA ACT Welhelmus Poek, mengatakan saat ini saya belum berkomunikasi dengan korban karena mereka masih trauma. Salah satu korban telah memposting kronologi kerjadian di sosial medianya.

Kedua pelajar wanita tersebut berjalan menuju pemberhentian bus dan tiba-tiba datang seorang perempuan dan temannya mengeluarkan kata-kata kasar.

Aku dan temanku cuman bisa diam, kemudia salah satu dari mereka memukul telinga teman saya sampai terpental dan lutut berdarah” ujar salah satu pelajar wanita indonesia.

Setelah mendengar laporan ini PPIP ACT langsung memberikan himbauan kepada pelajar wanita indonesia untuk selalu berhati-hati dimanapun berada.

Setelah mendengar laporan ini PPIP ACT langsung memberikan himbauan kepada pelajar wanita indonesia untuk selalu berhati-hati dimanapun berada.

Menurut laporan tersebut belum diketahui motif penyerangan tapi kuat dugaan jika serangan tersebut karena bermuatan rasis.

PPIP juga mengatakan jika pihaknya tidak akan tinggal diam soal serangan yang terjadi kepada warga negara Asing, yang diduga rasis.

Meskipun tinggal di negara orang, tapi hukum dan aturan di negara ini harus dijalankan termasuk aturan masalah kekerasan ,apalagi jika berbau rasis.

Penyerangan terhadap pelajar indonesia memang jarang terjadi di kota canberra, australia. Beberapa pihak merasa kesal karena saat insiden tidak ada warga yang menolong ataupun melerai.

Kedutaan besar canberra sudah berjumpa dengan kedua korban. Kedua korban telah melaporkan penyerangan itu dan ingin melakukan upaya hukum.

Kejadian yang terjadi pada 7 februari itu berdampingan dengan laporan media lokal yang mengatakan chief minister andrew barr yang membawa delegasi perguruan tinggi australia ke indonesia.

Kunjungan itu bertujuan agar semakin banyak pelajar dari indonesia yang melanjutkan pendidikannya ke australia. Terutama dibidang teknologi,ekologi,keperawatan,serta informasi.

Laporan tersebut juga mengungkap bahwa pelajar indonesia telah meningkat 59,3% dalam kurun waktu empat tahun sejak 2014 lalu, dan menjadi yang terbesar keempat setelah pelajar dari india, china, bhutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *