Kisah Udeng Yang Terombang Ambing Diterjang Tsunami Banten

Kisah Udeng Yang Terombang Ambing Diterjang Tsunami Banten

Udeng Sudirman (45) warga Kecamatan Cibereum, kota Sukabumi, Jawa Barat selamat setelah diterjang oleh ganasnya tsunami setinggi lebih dari 5 meter di TanjungLesung, Banten pada hari Sabtu (22/12) beberapa hari lalu. Bagaimana kisah perjuangannya?

Udeng masih terbaring lemah di tempat tidur rumahnya. Terkadang dia mengurut kedua kakinya yang mengalami luka akibat terseret dahsyatnya ombak yang menghantam lokasi acara Gathering PLN.

Pria yang bekerja sebagai Asisten Manager(Asmen) yang bertugas di Gandul Cinere. PLN Induk Depok UITJBB ini mengatakan dirinya mengalami patah kaki dan sejumlah luka lebam di bagian tangan dan kepala.

“Saat bencana terjadi, posisi saya di samping kiri panggung, kejadiannya sangat cepat. Mulanya saya mendengar teman berteriak, dia takbir begitu saya melihat air sudah berada diatas. Saya pun pasrah dengan ini, mungkin saja sudah waktunya saya sampai disini,” jelas Udeng kepada wartawan, Rabu(26/12).

Udeng menambahkan, dirinya tidak bisa memprediksi ketinggian ombak air yang menghantam. Namun dia memperkirakan ketinggian air yang mengantam tak kurang dari 5 Meter karena melebihi ketinggian panggung acara gathering yang tingginya 5 meter.

Saat itu Udeng mangaku dirinya terseret luapan air bah tsunami, meskipun dia sudah pasrah namun dia juga berjuang untuk mempertahankan hidupnya. Udeng merasakan kaki dan tangannya mengenai material yang terbawa oleh air laut.

“Kaki dan tangan saya terasa terkena oleh benda tumpul, selama terombang-ambing tsunami saya mengucapkan Ya Allah, Ya Rahman Ya Rahim terus aja begitu dalam hati saya ucapkan. Saya berusaha tetap sadar,” lanjutnya.

Keajaiban datang, setelah sekitar 20 menit terombang ambing terbawa arus tubuh Udeng tersangkut di sebuah pohon besar. Dia pun tersadar kembali, dia langsung melihat sekeliling lokasi tsunami.

Saya tersangkut di sebuah pohon besar, kondisinya sudah crowded saya lihat sekeliling saya banyak sekali mayat

“Saya tersangkut di sebuah pohon besar, kondisinya sudah crowded saya lihat sekeliling saya banyak sekali mayat. Setelah itu saya bertemu Gea, kru Seventeen. Tak lama kemudian datang mobil yang didalamnya juga ada 3 korban, kamipun ikut naik ke mobil,” ucapnya.

“Saya mengatakan ke supir, untuk ikut ke rumah sakit di Panimbang. Beberapa orang didalam mobil termasuk supir mengalami luka-luka. Setelah itu saya meminta untuk diantar lagi ke Panimbang untuk diurut dikarenakan patah tulang yang saya alami. Sesampaikan disana saya baru menghubungi pihak keluarga, mengatakan saya menjadi korban tsunami dan meminta untuk dijemput,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *