Morfologi Kawah Gunung Merapi Tidak Berubah Walaupun Sudah Terjadi 6x Letusan

Morfologi Kawah Gunung Merapi Tidak Berubah Walaupun Sudah Terjadi 6x Letusan

Morfologi Kawah Gunung Merapi terlihat tidak mengalami adanya perubahan meskipun sudah terjadi letusan freatik beberapa kali. Selain kawahnya, Kubah Lavanya juga terlihat tidak mengalami adanya perubahan.

Hal ini diinformasikan oleh Agus Budi Santoso, selaku Kepala Saksi Merapi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). Kepada wartawan di kantor di Jalan Cendana Yogyakarta, Rabu(23/5).

“Kalau visual kawah, morfologi kawahnya relatif tidak berubah. Dari beberapa letusan tidak terlihat adanya perubahan yang signifikan dari kawahnya maupun kubahnya,” ucap Agus.

Menurut Agus, erupsi freatik yang terjadi akhir-akhir ini sebenarnya lebih kecil jika dibandingkan dengan letusan yang terjadi pada tahun 2013 lalu. Namun saat ini erupsi yang terjadi intensitasnya lebih sering, oleh karena itu masyarakat dihimbau untuk selalu waspada.

Agus menambahkan, erupsi yang terjadi di Gunung Merapi belakangan ini merupakan erupsi freatik, bukan erupsi magmatik. Penyebab terjadinya ini karena akumulasi antara gas dan uap air yang menyebabkan terjadinya dorongan sehingga terjadi letusan.

“Jadi dilihat dari sisi mekanisme terjadinya letusan kecil seperti letusan freatik ini memang ada yang menjelaskan bahwa ini terjadi karena kontak dengan air tanah. Tetapi ini hanya salah satu penjelasannya,” ucapnya.

“Letusan abu ini juga dapat terjadi meskipun tidak terjadi kontak dengan air tanah. Jadi produksi gas yang dihasilkan dari magma kan terus terjadi, saat tersumbat diatas maka ini akan terakumulasi dan terlepas,” ucapnya.

Enam letusan freatik yang terjadi di Gunung Merapi dalam 1 bulan ini

Enam letusan freatik yang terjadi di Gunung Merapi dalam 1 bulan ini, antara satu letusan dengan letusan lainnya memang memiliki jeda yang lebih panjang. Namun gempa yang terjadi relatif lebih tinggi.

“Kegempaan relatif terjadi lebih tinggi dikarenakan kami menemukan adanya gempa MP (multyphase) dan ada juga gempa vulkanotektonik yang menunjukkan adanya akumulasi tekanan yang cukup tinggi,” ungkapnya.

Agus menambahkan, indikasi lainnya yang menunjukkan bahwa gempa letusan freatik kali ini lebih besar terlihat dari kolom asap yang cukup tinggi, ketinggian ini mencapai 2rb meter.

“Untuk menyimpulkan apakah aktivitas dari gunung Merapi naik atau turun diperlukan waktu. Jadi tidak bisa disimpulkan dalam waktu yang singkat apakah Aktivitas Gunung Merapi naik atau turun,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *